![]() |
| Foto: Kepala Sekolah SMP IT PGRI Merbau Mataram, Santoso Supriyadi |
Lampung Selatan, Exposekepri.com - Menyikapi pemberitaan yang beredar mengenai kondisi guru dan peserta didik di SMP IT PGRI Merbau Mataram, pihak sekolah menyampaikan hak jawab dan klarifikasi resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh, berimbang, serta sesuai dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan.
Kepala Sekolah SMP IT PGRI Merbau Mataram, Santoso Supriyadi S.HI., menegaskan bahwa data guru maupun data peserta didik yang dimiliki SMP IT PGRI Merbau Mataram telah disusun sesuai ketentuan yang berlaku dan dapat dipertanggungjawabkan Guru-guru yang tercatat merupakan tenaga pendidik aktif, sedangkan seluruh peserta didik yang tercantum merupakan siswa yang benar-benar terdaftar di sekolah.
Terkait kegiatan inspeksi (sidak) yang dilakukan oleh Korwil Pendidikan Kecamatan Merbau Mataram pada 24 Juli 2026, perlu dijelaskan bahwa pada hari tersebut terdapat guru yang memiliki jadwal mengajar namun berhalangan hadir karena sakit dan telah menyampaikan izin kepada pihak sekolah. Oleh karena itu, hanya sebagian guru yang berada di sekolah pada saat sidak berlangsung. Kondisi kehadiran guru pada satu hari tertentu tentu tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa data tenaga pendidik tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya."Ujar Santoso Supriyadi, pada awak media, Rabu 29/07/2026)
Demikian pula dengan kondisi peserta didik. SMP IT PGRI Merbau Mataram merupakan sekolah swasta yang berada di wilayah pedesaan dengan berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan geografis. Sebagian besar peserta didik berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu. Bahkan, tidak sedikit siswa yang sebelumnya pernah putus sekolah atau belum memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan secara berkelanjutan.
![]() |
| Foto: Tenaga Pengajar SMP IT PGRI Merbau Mataram |
Lebih lanjut Ia menjelaskan, Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam menekan angka anak putus sekolah, SMP IT PGRI Merbau Mataram secara aktif mengajak, menerima, dan membina kembali anak-anak tersebut agar dapat melanjutkan pendidikan. Sekolah juga menyelenggarakan pendidikan tanpa memungut biaya, sehingga dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagian peserta didik masih memiliki tingkat kehadiran yang belum stabil. Ada siswa yang hadir secara rutin, namun ada pula yang sesekali tidak masuk karena berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi keluarga, rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, maupun keadaan lingkungan. Bahkan terdapat peserta didik yang secara usia seharusnya telah menyelesaikan pendidikan jenjang SMP, tetapi baru memperoleh kesempatan untuk kembali bersekolah. Sekolah tetap menerima mereka karena meyakini bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan."Ujarnya
Selain itu, kondisi geografis juga menjadi tantangan nyata bagi sebagian peserta didik. Terdapat siswa yang setiap hari harus berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh menuju sekolah, bahkan harus menyeberangi sungai untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dalam kondisi tertentu, apabila orang tua berhalangan mengantar karena pekerjaan, keterbatasan kendaraan, atau keperluan lainnya, peserta didik tersebut terkadang tidak dapat hadir ke sekolah.
Realitas tersebut menjadi salah satu penyebab masih adanya peserta didik yang kehadirannya belum stabil. Namun kondisi tersebut sama sekali tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa data peserta didik sekolah tidak valid. Seluruh siswa yang tercatat merupakan peserta didik yang benar-benar terdaftar dan memperoleh layanan pendidikan di SMP IT PGRI Merbau Mataram.
Persoalan yang dihadapi sekolah adalah bagaimana mempertahankan semangat belajar dan kehadiran siswa di tengah berbagai keterbatasan yang mereka alami. Pihak sekolah juga telah memenuhi undangan klarifikasi dari Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan dan memberikan penjelasan mengenai kondisi riil jumlah peserta didik beserta berbagai tantangan yang dihadapi sekolah. Penjelasan tersebut disampaikan secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi kepada pemerintah.
Lanjutnya, Kami selaku pihak dari SMP IT PGRI Merbau Mataram menyayangkan apabila terdapat pemberitaan yang hanya menggambarkan kondisi sesaat tanpa menyajikan konteks secara utuh. Menilai validitas data sekolah hanya berdasarkan kondisi kehadiran guru dan siswa pada satu hari sidak tentu tidak memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kondisi sebenarnya.
"Oleh karena itu, setiap pemberitaan mengenai dunia pendidikan seyogianya mengedepankan prinsip keberimbangan, verifikasi, dan konfirmasi kepada seluruh pihak terkait agar informasi yang diterima masyarakat benar-benar objektif."
Sekolah juga berharap agar perhatian seluruh pemangku kepentingan tetap difokuskan pada upaya bersama meningkatkan akses pendidikan bagi seluruh anak, khususnya di wilayah pedesaan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan. Tantangan yang dihadapi sekolah swasta bukan hanya persoalan administrasi, tetapi juga bagaimana mengembalikan anak-anak yang putus sekolah, membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, serta mempertahankan anak-anak agar tetap belajar hingga menyelesaikan pendidikannya."Tegasnya
Keberadaan SMP IT PGRI Merbau Mataram merupakan bentuk partisipasi nyata masyarakat dalam membantu pemerintah memperluas akses pendidikan. Dengan menyelenggarakan pendidikan secara gratis, sekolah berupaya memastikan bahwa faktor ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh haknya atas pendidikan. Komitmen ini sejalan dengan cita-cita pemerintah untuk menekan angka putus sekolah dan mewujudkan pemerataan layanan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia.
Pihak sekolah mengajak semua pihak, baik pemerintah, media massa, masyarakat, maupun seluruh pemangku kepentingan, untuk bersama-sama membangun dunia pendidikan melalui informasi yang objektif, berimbang, dan berdasarkan fakta. Kritik dan pengawasan merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, namun hendaknya dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi nyata di lapangan serta semangat untuk mencari solusi, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang selama ini berupaya melayani anak-anak dengan penuh keterbatasan."Tutupnya.(Red/Hn)

