![]() |
| Foto: Politikus Ade Armando melontarkan analisis politik terkait polemik ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka |
Jakarta, Exposekepri.com - Politikus Ade Armando melontarkan analisis politik terkait polemik ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan kemungkinan munculnya skenario pemakzulan maupun pengunduran diri dari jabatan wakil presiden. Menurut Ade, langkah tersebut justru berpotensi memicu gelombang simpati publik terhadap Gibran dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Dalam pandangannya, tekanan politik yang terus mengarah kepada Gibran tidak serta-merta melemahkan pengaruh politik keluarga Jokowi. Sebaliknya, situasi tersebut dinilai bisa membentuk persepsi bahwa Gibran dan Jokowi menjadi pihak yang dirugikan dalam pertarungan politik nasional.
Ade bahkan menilai Gibran tidak memiliki ambisi berlebihan untuk mempertahankan jabatan wakil presiden. Ia menyebut Gibran dapat menerima kemungkinan mundur apabila situasi politik mengarah ke sana, lalu memusatkan perhatian pada kegiatan politik lainnya, termasuk membantu sang adik, Kaesang Pangarep, di Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Gibran tuh sejak awal tak kepengin-kepengin banget jadi wakil presiden kan. Sekarang dibilang berhenti nih, ya sudah tak apa-apa gue berhenti,” ujar Ade.
Ade Singgung Fenomena SBY pada Pemilu 2004
Pernyataan Ade semakin menjadi sorotan ketika ia mengaitkan kemungkinan pemakzulan Gibran dengan pengalaman politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang Pemilu 2004.
Menurut Ade, figur yang dipersepsikan mengalami ketidakadilan politik berpotensi memperoleh dukungan tambahan dari masyarakat. Ia menilai sentimen serupa dapat menguntungkan Jokowi dan Gibran apabila polemik yang berkembang justru menimbulkan simpati publik terhadap keduanya.
Ade juga melontarkan prediksi mengenai potensi peningkatan suara PSI dalam pemilu mendatang. Ia menyebut angka 24 persen dengan membandingkannya pada perolehan suara Partai Demokrat pada masa kejayaan SBY.
“Rakyat akan bersimpati pada Gibran, pada Jokowi. Terzalimi lagi ya. Bayangkan tambahan suara yang akan diperoleh, ingat waktu SBY zaman Megawati? Persis dizalimi, suara SBY loncat kan. PSI suaranya di Pemilu nanti akan seperti Partai Demokrat dulu, sekitar 24 persen,” kata Ade.
Meski demikian, angka tersebut merupakan prediksi dan analisis politik Ade Armando, bukan hasil survei elektabilitas atau proyeksi resmi yang telah terverifikasi.
Peringatkan Risiko Politik bagi Prabowo dan Gerindra
Ade turut mengingatkan bahwa dorongan untuk memakzulkan atau menyingkirkan Gibran dari jabatan wakil presiden berpotensi menimbulkan konsekuensi politik bagi pihak-pihak yang terlibat.
Ia menilai langkah yang dianggap sebagai upaya menyingkirkan rekan koalisi di tengah perjalanan pemerintahan dapat memunculkan persepsi negatif terhadap Presiden Prabowo Subianto, Partai Gerindra, maupun pihak lain yang dituding berada di balik wacana tersebut.
Dalam pandangannya, konflik politik semacam itu bukan hanya berpotensi mengganggu hubungan antarkekuatan politik, tetapi juga dapat mengubah peta dukungan masyarakat menjelang pemilu berikutnya.
Ade menggambarkan upaya menyingkirkan rekan politik sebagai tindakan yang berisiko merusak kepercayaan dalam koalisi.
“Siapa pun yang berada di belakang upaya memakzulkan Gibran ini akan buruk. Kalau kata orang Melayu, menusuk kawan seiring,” pungkasnya.
Skenario Politik Masih Sebatas Analisis
Pernyataan Ade Armando membuka ruang perdebatan mengenai dampak polemik Gibran terhadap konfigurasi politik nasional. Namun, kemungkinan terjadinya pemakzulan, besarnya simpati publik, hingga prediksi PSI memperoleh suara 24 persen masih memerlukan pembuktian melalui perkembangan politik dan data elektoral yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, apakah polemik tersebut akan melemahkan atau justru memperkuat posisi politik Jokowi, Gibran, dan PSI akan sangat bergantung pada respons masyarakat, dinamika koalisi, serta perkembangan politik menjelang pemilu mendatang. (Red)
