![]() |
| Foto: Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Andi Widjajanto buka rahasia terkait dinamika politik djoko widodo |
Jakarta, Exposekepri.com - Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) sekaligus politisi senior, Andi Widjajanto, blak-blakan membuka rahasia dapur terkait dinamika politik pelik di balik peralihan dukungan politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari PDI Perjuangan dan Ganjar Pranowo ke Prabowo Subianto pada Pemilu 2024.
Andi mengungkap bahwa pergeseran besar ini tidak terjadi begitu saja, melainkan didorong oleh kalkulasi pragmatis, ketegangan ideologis, hingga kekhawatiran politik jangka panjang.
Dari Wacana Tiga Periode hingga Opsi Konstitusional
Andi mengenang masa-masa ketika dirinya masih menjabat di Lemhannas, di mana lembaganya sempat diminta untuk melakukan kajian komprehensif mengenai opsi perpanjangan masa jabatan presiden atau tiga periode. Langkah ini awalnya diinisiasi karena kekhawatiran bahwa program-program strategis nasional terganggu akibat pandemi Covid-19.
"Seingat saya kami memberikan tujuh opsi, opsi yang paling ideal adalah amandemen konstitusi mencontoh FDR (Franklin D. Roosevelt) yang maju untuk ketiga kalinya karena Amerika Serikat sedang Perang Dunia II," ungkap Andi.
Namun, wacana tersebut akhirnya kandas. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan tiga syarat ketat: harus konstitusional, ada kedaruratan, dan jika harus dibawa ke MPR/DPR maka PDIP yang harus menjadi penjurunya.
Seiring berjalannya waktu, prasyarat darurat tersebut dinilai sudah lewat, dan membuka kotak Pandora amandemen UUD 1945 dinilai terlalu berisiko. PDIP dan Jokowi lantas sepakat mengarahkan fokus pada keberlanjutan program melalui pencalonan Ganjar Pranowo.
Titik Balik dan Friksi di Batu Tulis
Hubungan harmonis antara Jokowi dan lingkaran PDIP mulai mengalami retak serius manakala Megawati Soekarnoputri bergerak cepat mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden di Batu Tulis pada April 2023.
Deklarasi tersebut dinilai mengejutkan Jokowi, yang sebelumnya sempat dikabarkan berupaya menjembatani komunikasi politik antara Ganjar dan Prabowo Subianto.
Andi menceritakan momen ketika ia mengontak Jokowi usai deklarasi tersebut. Saat ditanya pandangannya, Andi secara simbolis menyoroti batik merah-hitam abstrak yang dikenakan Jokowi. Sejak saat itu, Andi melihat adanya gestur kekecewaan dan kegelisahan yang mendalam dari sang presiden.
Pilihan Rasional-Pragmatis: Menghindari Kemenangan Anies Baswedan
Menurut Andi, pergeseran akhir dukungan Jokowi ke Prabowo Subianto didasari oleh pertimbangan rasional-pragmatis yang sangat kuat di tingkat elektoral.
"Kalau kemudian mengkomparasikan kemungkinan menang antara Ganjar, Prabowo, Anies, maka kalau Pak Jokowi tidak geser ke Pak Prabowo, kemungkinan Anies yang menang," tegas Andi.
Kecenderungan politik masa lalu terutama dinamika Pilkada DKI Jakarta 2016 membuat kubu Jokowi memperhitungkan secara matang risiko politik jika kubu Anies Baswedan keluar sebagai pemenang mutlak di 2024.
Guna memastikan keberlanjutan program sekaligus keamanan politik pasca kekuasaan, Jokowi akhirnya memilih menyikong Prabowo Subianto dengan menyertakan Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres di dalam koalisi tersebut.
"Evolusi Politik Keluarga" dan Melemahnya Mesin Partai
Disinggung mengenai dinamika internal partai dan majunya Gibran, Andi menilai ada pergeseran pola pikir atau "evolusi tentang politik keluarga" seiring berjalannya waktu. Pada 2014, keluarga Jokowi cenderung menjaga jarak dari pusaran politik praktis.
Namun, dinamika kekuasaan dan kebutuhan akan kepastian kontrol politik membuat peta jalan keluarga tersebut berubah drastis.
Bagi PDIP, manuver ini berdampak langsung pada soliditas mesin pemenangan di Jawa Tengah yang selama ini menjadi kandang banteng.
Andi mengakui bahwa pergerakan jejaring relawan pendukung Jokowi membuat mesin partai mengalami pelemahan signifikan di sejumlah wilayah strategis, hingga akhirnya konstelasi Pilpres 2024 dimenangkan oleh kubu Prabowo-Gibran. (Red/BL)
