![]() |
| Foto: penampakan sebuah Sekolah Dasar Khusus perempuan yang terkena serangan udara AS-ISRAEL |
Nasional, Exposekepri.com - Sebuah duka mendalam menyelimuti Kota Minab di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, setelah sebuah serangan udara dahsyat menghantam sebuah sekolah dasar khusus perempuan pada Sabtu pagi.
Serangan udara gabungan yang diluncurkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 51 siswi yang berusia antara tujuh hingga dua belas tahun.
Kejadian ini memicu gelombang kecaman internasional karena jatuhnya korban warga sipil yang merupakan anak-anak di tengah berkecamuknya konflik bersenjata.
Saat rudal menghantam bangunan tersebut, terdapat sekitar 170 murid yang tengah berada di dalam kelas, sehingga banyak di antaranya terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur total.
Rekaman amatir yang beredar di media sosial menunjukkan warga setempat bekerja dengan tangan kosong untuk menggali puing-puing guna menyelamatkan anak-anak yang masih terjebak di dalam reruntuhan.
Asap tebal dan bau mesiu memenuhi udara di sekitar lokasi kejadian, menciptakan pemandangan yang sangat memilukan bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan gabungan ini sebenarnya ditargetkan untuk melumpuhkan infrastruktur rudal dan nuklir milik rezim Iran.
Namun, jatuhnya korban anak-anak di sebuah sekolah dasar menjadi bukti nyata betapa destruktifnya dampak "collateral damage" dari operasi militer skala besar ini terhadap penduduk sipil.
Trump menegaskan, bahwa operasi tersebut tidak akan berhenti sampai ancaman dari Iran benar-benar hilang, meskipun risiko jatuhnya korban jiwa terus membayangi setiap titik serangan.
Reaksi kemarahan meluap di seluruh Iran, dengan pimpinan tertinggi negara tersebut dilaporkan segera dipindahkan ke lokasi rahasia demi alasan keamanan.
Dunia internasional kini mendesak agar dilakukan investigasi independen terkait serangan yang menyasar fasilitas pendidikan tersebut guna memastikan adanya pertanggungjawaban hukum secara global.
Tragedi di Hormozgan ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik setiap persaingan kekuasaan dan teknologi perang, nyawa anak-anak yang tidak berdosa seringkali menjadi harga yang harus dibayar paling mahal. (S:Fud/Rls)
