Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Saga Teheran: Permintaan Maaf di Tengah Hujan Meteor

Minggu, Maret 08, 2026 | 10:36 WIB Last Updated 2026-03-08T03:36:41Z
Foto: Masoud Pezeshkian, pria yang memegang kemudi Iran

Teheran, Exposekepri.com - Di bawah langit Teheran yang sedang hobi mengoleksi kembang api raksasa kiriman Israel, Masoud Pezeshkian pria yang memegang kemudi Iran di tengah badai akhirnya melangkah ke podium.


Dengan jubah yang rapi dan aura setenang air di bak mandi saat gempa bumi, ia menatap kamera TV Pemerintah seolah ingin berkata, "Mohon maaf lahir batin, tapi ini versi geopolitik."


Sabtu, 7 Maret 2026, menjadi hari yang sangat sibuk bagi layanan pelanggan diplomatik Iran.


 Sementara 80 jet tempur Israel sedang asyik melakukan "kunjungan mendadak" ke pusat rudal Teheran seperti tetangga yang bertamu tanpa mengetuk pintu Pezeshkian justru muncul dengan narasi yang sungguh elegan namun bikin dahi mengkerut.


Dengan nada suara selembut sutra yang baru disetrika, Pezeshkian berkata kepada negara-negara tetangga, "Saya minta maaf kepada kalian yang terkena 'senggol' serangan Iran."


Bayangkan, ini seperti seseorang yang tidak sengaja menumpahkan kuah bakso ke baju putih Anda saat sedang berduel pedang dengan orang lain.


Pezeshkian menegaskan Iran tidak punya hobi baru menyerang tetangga. Namun, layaknya promo belanja online, ada syarat utamanya:


"Kami tidak akan menembak kalian, Kecuali kalau kalian duluan yang lempar batu dari halaman rumah kalian."


Jangan kasih tumpangan parkir buat jet AS atau Israel kalau tidak mau halaman rumah Anda ikut jadi arena fireworks gratisan.


Tidak lengkap rasanya pidato pemimpin Iran tanpa bumbu retorika yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus membuat kita ingin bertepuk tangan.


Dengan tatapan setajam silet, ia mengirim pesan cinta untuk Washington dan Tel Aviv:


"Musuh-musuh kita boleh punya keinginan agar rakyat Iran menyerah, tapi silakan bawa keinginan itu sampai ke liang lahat!"


Sebuah kalimat yang sangat puitis untuk mengatakan, "Sampai kiamat pun, kami tidak akan menyerah."


Sementara Teheran sibuk dengan urusan "liang lahat", Liga Arab langsung panas dingin. Mereka menjadwalkan pertemuan darurat pada hari Minggu.


Bayangkan para pemimpin ini berkumpul, memesan kopi paling pahit, sambil memandangi peta Teluk yang kini lebih mirip papan permainan Battleship versi nyata.


Dunia sedang menahan napas, sementara Pezeshkian mungkin sedang menyesap tehnya, menunggu apakah permintaan maafnya diterima atau malah dibalas dengan kiriman rudal berikutnya. (*)


Courtesy of: Berbagai Sumber.

×
Berita Terbaru Update