Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Yusril Ihza Mahendra Pasang Badan Terkait Pernyataan Presiden Soal Dolar dan Rakyat Desa

Jumat, Mei 22, 2026 | 08:24 WIB Last Updated 2026-05-28T17:08:43Z

 

Foto: Yusril Ihza Mahendra, meluruskan pasca pernyataan Presiden yang sempat viral dan banyak menuai kritik


Jakarta, Exposekepri.com -  Yusril Ihza Mahendra, angkat bicara untuk meluruskan polemik yang muncul pasca pernyataan Presiden mengenai penggunaan mata uang dolar di kalangan masyarakat desa. Pernyataan tersebut sempat viral dan menuai berbagai kritik serta sindiran di media sosial. Jum'at 22/5


Yusril menegaskan bahwa kritik yang diarahkan kepada Presiden, yang seolah-olah menganggap Kepala Negara tidak memahami ekonomi makro, adalah sebuah kekeliruan besar.


Menurut Yusril, Presiden sangat memahami kompleksitas ekonomi global. "Beliau sangat paham, sangat-sangat paham. Beliau menulis buku ekonomi yang tebal, masa tidak paham soal itu," ujar Yusril dalam tanggapannya.


Yusril menjelaskan bahwa pernyataan tersebut harus dilihat dalam konteks situasi dan audiens saat Presiden berkunjung ke Nganjuk, Jawa Timur. 


Saat itu, Presiden sedang meresmikan koperasi di hadapan masyarakat setempat. Dalam situasi tersebut, Presiden menyesuaikan bahasanya agar relevan dengan rakyat kecil.


"Seorang presiden harus bicara kepada rakyatnya. Di Nganjuk, beliau bicara sama orang kampung. Tentu beliau menyesuaikan cara penyampaiannya," tambah Yusril.


Lebih lanjut, Yusril memaparkan bahwa esensi dari pernyataan Presiden sebenarnya adalah keresahan mendalam mengenai ketergantungan Indonesia terhadap barang-barang impor.


Presiden menyoroti ironi bahwa barang-barang sederhana seperti peniti hingga cangkul masih harus didatangkan dari luar negeri.


"Semua kita tahu, begitu banyak barang kita impor. Sampai peniti pun kita impor, pacul kita impor. Apa kita tidak bisa bikin peniti, tidak bisa bikin pacul? Yang benar saja," kata Yusril


Yusril juga menyoroti poin krusial yang disampaikan Presiden mengenai ancaman perdagangan daring (digital economy) dan dominasi mata uang asing. Presiden mengingatkan bahwa sistem ekonomi global saat ini masih dikendalikan oleh kekuatan modal besar atau neocapitalism.


Menurut Yusril, Presiden tengah mengajak masyarakat untuk sadar bahwa saat ini terjadi pergeseran ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat yang telah mendominasi sejak pasca-Perang Dunia II.


"Di balik semua itu, kapitalisme ini bermain, neo-capitalism yang tanpa kita sadar berada di balik dan mengendalikan ekonomi digital ini," jelas Yusril.


Yusril menekankan bahwa tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana mentransformasi posisi Indonesia dari sekadar negara konsumen menjadi pihak yang memegang kendali dalam sistem ekonomi global di masa depan. (Da)

×
Berita Terbaru Update