![]() |
| Foto: [Ilustrasi] Di tengah ribut ribut politik yang menyeret nama Bupati Bintan, ada cerita lain yang lebih pilu dari sekadar soal kekuasaan |
Bintan, Exposekepri.com - Di tengah ribut-ribut politik yang menyeret nama Bupati Bintan, ada cerita lain yang lebih pilu dari sekadar soal kekuasaan. Ini bukan cuma tentang perempuan yang nuntut keadilan, tapi juga soal pengorbanan, cinta pertama yang bikin buta, dan hati yang patah berkeping-keping.
Saat media ramai membicarakan kasus ini dari sisi politik, Ayu Aulia justru buka suara dengan pengakuan yang bikin terkejut sekaligus sesak. Di masa lalu, pria yang sekarang jadi bupati itu bukan pejabat buat Ayu. Dia cuma cinta pertama, cinta yang bikin Ayu rela buang ego dan logika.
Saking dalamnya perasaan itu, Ayu terang-terangan bilang dia sempat rela kalau posisinya cuma nomor dua.
“Misalnya dijadikan istri kedua, mau? Itu kan yang saya mau. Rela gitu,” kata Ayu waktu ditanya seberapa jauh dia mau berkorban buat sang bupati. “Gimana ya... namanya cinta pertama,” lanjutnya dengan nada getir yang nggak bisa ditutup-tutupi.
Kedengarannya gila buat sebagian orang, Tapi itu kenyataannya. Ayu siap pasang badan, bahkan rela dicap nggak waras demi menyelamatkan pria yang dia cinta.
Ayu juga menegaskan, perasaannya nggak ada hubungannya sama harta, takhta, atau kursi bupati yang sekarang disandang pria itu. Dia cinta sama orangnya, bukan jabatannya. Saking cintanya, Ayu bilang dia nggak bakal peduli kalau besok pria itu kehilangan kekuasaan dan bukan pejabat lagi, perasaannya waktu itu nggak bakal berubah.
Tapi pengorbanan tanpa pamrih itu dibalas luka. Di saat Ayu rela berbagi hati dan jadi istri kedua, kenyataannya dia malah disuruh gugurin bayi kembar di kandungannya, tepat sebelum pria itu nikah sama perempuan lain.
“Yang harusnya ditanya itu istri pertamanya. Kenapa dia bisa rela, ada perempuan yang disuruh gugurin kandungan pas suaminya mau nikah? Kalau aku jadi perempuan saat itu juga, aku bilang, ‘Lu nikahin juga (Ayu)’. Tunggu itu,” ujarnya tajam, nyoroti ironi antara ketulusan dia dan ketidakadilan yang dia terima.
Sekarang, perempuan yang dulu rela ngelakuin apa aja demi cinta pertamanya itu udah berdiri tegak. Ayu nggak lagi cari panggung, nggak terima uang suap puluhan juta, dan menolak keras kalau dijadikan bahan bakar politik pihak mana pun.
Yang dia minta cuma satu hal sederhana dari pria yang dulu sangat dia puja: pertanggungjawaban moral dan permintaan maaf. Penutup yang pantas buat cinta yang dulu mati-matian dia pertahankan. (Tim)
